Rabu, 06 Januari 2010

PAKEM – Penerapan Di Lapangan

PAKEM – Penerapan Di Lapangan



Beberapa orang memandang bahwa PAKEM sama dengan kerja kelompok. Jika dalam suatu kelas sedang berlangsung pembelajaran dan di sana siswa tetap duduk seperti orang menonton bioskop, semua menghadap ke depan, duduk berdua dengan satu bangku, maka dengan mudah dan cepat dikatakan kelas itu tidak PAKEM. Tetapi sebaliknya, jika di suatu kelas siswa sedang duduk berkelompok, walau mereka hanya duduk dalam kelompok, tetapi tidak semua siswa bekerja, maka dengan mudah kita mengatakan kelas itu PAKEM. Seharusnya menilai PAKEM tidaknya suatu pembelajaran tidak cukup hanya dengan melihat pengaturan tempat duduk siswa,
tetapi harus diperhatikan pula intensitas keterlibatan siswa dalam belajar.

Beberapa isu-isu penerapan PAKEM di kelas adalah sebagai berikut:
1) Guru belum memperoleh kesempatan menyaksikan pembelajaran PAKEM yang baik;
2) Guru belum memiliki referensi (buku, video, dll) tentang pembelajaran PAKEM yang baik;
3) Tugas yang diberikan guru kepada siswa masih bersifat tertutup dan banyak pengisian lembar kerja (LK) yang kurang baik;
4) Pembelajaran belum memberikan tantangan sesuai kemampuan siswa
5) Pembelajaran hanya mengajarkan satu indikator dengan satu aktivitas;
6) Perbedaaan individual siswa belum diperhatikan termasuk laki-laki/perempuan, pintar/ kurang pintar, sosial ekonomi tinggi/rendah;
7) Pengelolaan siswa kurang sesuai dengan kegiatan;
8) Guru merasa khawatir untuk melaksanakan PAKEM di kelas 6 dan 9;
9) Pajangan cenderung menampilkan semua apa yang dikerjakan siswa dengan hasil yang seragam;

PAKEM dan Kurikulum Berbasis Kompetens

PAKEM dan Kurikulum Berbasis Kompetensi
Kami telah menerima banyak pertanyaan mengenai Pembelajaran Aktif Kreatif, Efektif ,dan Menyenangkan (PAKEM), khususnya sejauh mana PAKEM mendukung pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).



Apakah PAKEM menjamin ketuntasan belajar sesuai yang dituntut KBK?
Dengan PAKEM, pelaksanaan pembelajaran jauh lebih mendalam daripada menggunakan cara konvensional (guru banyak berceramah). Dengan demikian PAKEM akan meningkatkan berbagai kemampuan seperti dituntut oleh KBK.

Apakah dengan PAKEM semua materi pelajaran dapat terselesaikan?
Salah satu kelebihan PAKEM adalah melatih kemandirian siswa dalam belajar termasuk keterampilan mencari dan memanfaatkan informasi.

Pendalaman pelajaran dilakukan dengan bimbingan langsung dari guru, sedangkan materi yang kurang esensial dapat dibaca sendiri oleh siswa. Dengan jalan demikian tidak perlu khawatir semua materi tidak dapat diselesaikan

Apakah PAKEM sudah menghasilkan anak pandai mengingat daya pikir anak sangat berbeda beda?
Selama ini, dengan pembelajaran cara lama, semua anak sering diperlakukan sama oleh guru baik dalam pelaksanaan KBM maupun evaluasi. Salah satu kelebihan PAKEM adalah memberikan pelayanan kepada siswa dengan kemampuan berbeda beda.

Dengan PAKEM, anak pandai, sedang, dan kurang semuanya diusahakan meningkatkan kemampuan masing masing.
Negara negara maju yang sudah menerapkan PAKEM dengan baik menghasilkan orang orang pandai yang melakukan berbagai penelitian dan menghasilkan penemuan penemuan baru yang bermanfaat bagi umat manusia di seluruh dunia.

Apakah PAKEM menjamin keberhasilan siswa?
Keberhasilan siswa selama ini hanya dilihat dengan menggunakan ukur-an UAN dan nilai tinggi NEM. Padahal kita semuanya mengetahui bahwa UAN hanya mengukur aspek kognitif saja (tingkat rendah dalam taksonomi Bloom).

Dalam PAKEM, berbagai kemampuan siswa (belajar mandiri, bekerjasama, berpikir kritis, mencari informasi, memecahkan masalah, mengambil keputusan dsb) dikembangkan untuk memberikan bekal bagi mereka untuk terjun ke dunia modern yang penuh tantangan dan persaingan antar bangsa.

Apakah PAKEM membuat KBM berhasil? Berapa lama?
KBM yang berhasil adalah KBM yang dapat meningkatkan berbagai kemampuan siswa. Kalau guru banyak berceramah, kemampuan yang dikembangkan pada diri siswa adalah kemampuan mendengarkan, mengingat, dan menjawab pertanyaan ingatan.

Semuanya dengan daya retensi yang sangat rendah. Sebaliknya dengan PAKEM, siswa akan terlatih mencari informasi,menyaring informasi, menggunakan informasi, berdiskusi, mengajukan pertanyaan, melakukan pengamatan, penelitian, percobaan , membuat laporan dsb.
Kemampuan-kemampuan seperti itu kalau sudah terlatih, akan bertahan sepanjang hidup dan berguna bagi hidup.

PAKEM sebagai Pembelajaran Konvensional Memantapkan Identitas Guru

PAKEM sebagai Pembelajaran Konvensional Memantapkan Identitas Guru


Seiring dengan perkembangan zaman serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, maka tak bisa ditawar keharusan untuk terus mengadakan pembaharuan disegala lini kehidupan. Terutama sekali yang bersentuhan langsung dengan kemajuan Iptek itu sendiri, yakni Pendidikan. Sistem yang ada di dalam pendidikan harus terus mengadakan "mutasi" kearah yang positif demi mendukung sinergitas dengan kemajuan tadi. Pembelajaran di dalam kelas sebagai suatu sub system yang sangat penting dalam pendidikan tak ayal harus berbenah juga.

Berbagai teknik pembelajaran, baik itu metode, pendekatan, maupun tata cara atau aturan dalam pembelajaran gencar ditelorkan demi menghasilkan transfer pengetahuan dari guru ke siswa yang lebih optimal. Salah satu yang sangat gencar diperkenalkan dan dilatihkan adalah Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (Pakem). Hakikat Pakem sebenarnya adalah memberi rasa nyaman dan betah siswa (anak didik) dalam menerima pelajaran. Oleh karena itu Pakem sangat memperhatikan keinginan atau kegemaran anak, yakni bermain. Pembelajaran diolah sedemikian rupa sehingga terdapat unsur permainan di dalamnya. Mulai pembelajaran dalam bentuk lomba, kerjasama atau diskusi, sampai pembelajaran yang dilakukan di luar kelas.

Kemunculan Pakem sebenarnya disebabkan adanya indikasi bahwa siswa jenuh terhadap pembelajaran yang selama ini diterapkan. Pembelajaran yang monoton (tidak kreatif), hanya mendengarkan guru berceramah (pasif, tidak aktif), kurangnya transfer ilmu yang dapat bertahan lama pada siswa (tidak efektif), dan terakhir tentu saja sangat membosankan (tidak menyenangkan). Demikianlah nuansa pembelajaran yang kebanyakan dilakukan oleh guru selama ini. Pembelajaran yang demikian itu, yang selama ini banyak dilakukan, disebutlah sebagai pembelajaran konvensional.

Jika kita berbicara tentang pembelajaran yang konvensional, maka akan terasimilasi pada pembelajaran yang negatif, dalam arti sebaiknya tidak dilakukan lagi. Jika kita bertanya kepada seorang guru atas pilihannya antara Pakem dan pembelajaran yang konvensional tadi, maka dapat dipastikan jawabannya akan memilih Pakem, meskipun nyata-nyata dalam keseharian di sekolah, guru tersebut mempraktekkan pembelajaran yang konvensional tadi. Jika kita kembali menanyakan tentang "keengganannya" mengaplikasikan Pakem, maka dapat saja dia mengatakan bahwa tanpa Pakem pun pembelajaran dapat terlaksana dan lebih mudah pelaksanaannya.

Bukan karena ketidaktahuan mereka terhadap aplikasi Pakem di kelas, tapi lebih disebabkan unsur mudah dan sukarnya pembelajaran itu diterapkan. Lalu, mengapa pembelajaran yang "konvensional" tadi mudah diterapkan dan Pakem terasa sangat sulit untuk diaplikasikan? Sesuatu yang selalu atau berulang-ulang kita lakukan pastilah akan terasa mudah bagi kita untuk mengerjakannya. Hal ini pulalah yang terjadi pada pembelajaran yang dikatakan konvensional tadi. Hampir setiap hari guru melakukan pembelajaran dengan teknik dan metode yang begitu-begitu saja, maka terasa kemudahan dalam penerapannya. Sedangkan Pakem, mendengarnya saja mungkin ada di antara guru kita yang sudah membayangkan kesulitan yang dihadapi nantinya di kelas.

Jika kita kembali untuk mengamati secara lebih teliti pembelajaran yang selama ini menjadi kegandrungan guru dalam menerapkannya, maka akan membuat kita bertanya-tanya, dimana fungsi didaktik dan metodik yang selama ini kita sebagai guru telah fahami dalam pendidikan keguruan, karena tanpa unsur didaktik dan metodik sekalipun pembelajaran konvensional tadi dapat terlaksana. Jika demikian, pada akhirnya akan kita sepakati bahwa meski bukan seorang guru sekalipun pembelajaran yang konvensional tadi, akan dapat terlaksana. Lalu, dimana profesionalitas kita sebagai guru? Kemana kemampuan lebih kita dalam proses pembelajaran dibanding yang bukan guru? Apa hanya dengan memikirkan mudah dan sukarnya penerapan itu, kita korbankan identitas guru kita?

Mari kita tarik benang merah terhadap persoalan di atas. Bahan kita adalah, bahwa Pakem sebenarnya bukanlah pembelajaran yang benar-benar baru bagi guru. Sejak dalam penggodokan di sekolah keguruan kita telah menerima berbagai kiat dalam menggairahkan suasana kelas sehingga siswa belajar atau kemauannya sendiri dan pada akhirnya pengetahuan yang diperolehnya akan bertahan lama. Selain itu, guru tentu lebih banyak tahu teknik dalam menggairahkan siswa dalam proses pembelajaran. Hanya dengan sedikit berpikir (sesuatu yang harus selalu ada pada diri guru) mereka akan mampu menemukan sinkronisasi antara materi yang akan diajarkan dengan teknik yang menggairahkan siswa (Pakem). Lalu, bagaimana kita dapat menerima tantangan bahwa teknik konvensional tadi lebih mudah? Gampang! Jadikan Pakem menjadi pembelajaran yang konvensional, maka jadilah dia (Pakem) itu mudah dilaksanakan. Mulailah hari ini kita terapkan Pakem di kelas kita. Sulit? Bulatkan tekad kita untuk menjadi guru yang benar-benar guru, sehingga kesulitan yang memang biasa dialami jika awal kita melaksanakan tidak akan terasa. Esok hari dan seterusnya, Pakem menjadi pilihan utama kita dalam pembelajaran di kelas, maka jadilah Pakem sebagai pembelajaran yang Konvensional.

Pakem sebagai pembelajaran konvensional tentu saja tidak lagi terkesan negatif, justru akan lebih baik. Pakem dianggap oleh guru sebagai pembelajaran yang mudah direalisasikan dalam pembelajaran di kelas bahkan setiap hari sekalipun. Pakem sebenarnya meneguhkan identitas kita sebagai guru. Seorang guru harus mampu memilih atau berkreasi sendiri atas metode yang akan dilaksanakan sehingga proses trasfer pengetahuan berjalan dengan baik. Guru harus mampu memanfaatkan atau membuat sendiri peraga yang akan digunakan dalam proses pembelajaran demi perhatian siswa dan lebih memudahkan konsep materi yang akan ditransfer. Guru harus mampu mengelola kelas agar bergairah dan menyenangkan siswa. Kesemua kemampuan itu tentu saja hanya dapat dipunyai dan diaplikasikan oleh seorang guru. Oleh karena itu mari kita mantapkan identitas kita sebagai guru dengan mengaplikasikan Pakem sebagai pembelajaran konvensional yang kita gandrungi. Sekian

pembelajaran Pakem

PAKEM adalah Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Disamping metodologi pembelajaran dengan nama atau sebutan “PAKEM”, muncul pula nama yang dikeluarkan di daerah Jawa Tengah dengan sebutan “PAIKEM Gembrot” dengan kepanjangan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, Menyenangkan, Gembira dan Berbobot. Disamping itu melalui program Workstation P4TK-BMTI Bandung tahun 2007, di Jayapura muncul pula sebutan
“Pembelajaran MATOA” (diambil dari buah Matoa), kepanjangan Menyenangkan Atraktif Terukur Orang Aktif, yang artinya Pembelajaran yang menyenangkan, Guru dapat menyajikan dengan atraktif/menarik dengan hasil terukur sesuai yang diharapkan siswa(orang) belajar secara aktif .

Active Learning,

Proses belajar dapat dikatakan active learning dengan mengandung :

1. Komitmen (Keterlekatan pada tugas),
Berarti, materi, metode dan strategi pembelajaran bermanfaat untuk siswa(meaningful), sesuai dengan kebutuhan siswa (relevant) dan bersifat pribadi (personal)

2. Tanggung jawab (Responsibility),
Merupakan suatu proses belajar yang memberi wewenang pada siswa untuk krtitis, guru lebih banyak mendengar daripada bicara, menghormat ide-ide siswa, memberi pilihan dan memberi kesempatan pada siswa untuk memutuskan sendiri

3. Motivasi,
Motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, dengan lebih mengembangkan motivasi intrinsik siswa agar proses belajar yang ditekuninya muncul berdasarkan, minat dan inisiatif sendiri, bukan karena dorongan lingkungan atau orang lain.
Motivasi belajar siswa akan meningkat karena ditunjang oleh pendekatan belajar yang dilakukan guru lebih dipusatkan kepada siswa (Student centred approach), guru tidak hanya menyuapi atau menuangkan dalam ember, tetapi menghidupkan api yang menerangi sekelilingnya, dan bersikap positif kepada siswa.
Active learning bisa dibangun oleh seorang guru yang gembira,tekun dan setia pada tugasnya, bertanggung jawab, motivator yang bijak, berpikir positif, terbuka pada ide baru dan saran dari siswa atau orang tuanya/masyarakat, tiap hari energinya untuk siswa supaya belajar kreatif, selalu membimbing, seorang pendengar yang baik, memahami kebutuhan siswa secara individual, dan mengikuti perkembangan pengetahuan.

Pembelajaran Kreatif
Pembelajaran kreatif adalah kemampuan untuk menciptakan, mengimajinasikan, melakukan inovasi, dan melakukan hal-hal yang artistik lainnya. Dikarakterkan dengan adanya keaslian dan hal yang baru. Dibentuk melalui suatu proses yang baru. Memiliki kemampuan untuk menciptakan. Dirancang untuk mesimulasikan imajinasi.
Kreatifitas adalah sebagai kemampuan (berdasarkan data dan informasi yang tersedia) untuk memberikan gagasan-gagasan baru dengan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, yang menekankan pada segi kuantitas, ketergantungan dan keragaman jawaban dan menerapkannya dalam pemecahan masalah.

Ciri-ciri Kepribadian Kreatif
Berdasarkan survei kepustakaan oleh Supriadi (1985) mengidentifikasi 24 ciri kepribadian kreatif yaitu: (1) terbuka terhadap pengalaman baru, (2) fleksibel dalam berfikir dan merespons; (3) bebas dalam menyatakan pendapat dan perasaan;(4)menghargai fantasi; (5) tertarik kepada kegiatan-kegiatan kreatif; (6) mempunyai pendapat sendiri dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain; (7) mempunyai rasa ingin tahu yang besar; (8) toleran terhadap perbedaan pendapat dan situasi yang tidak pasti; (9) berani mengambil risiko yang diperhitungkan; (10) percaya diri dan mandiri; (11) memiliki tanggung jawab dan komitmen kepada tugas; (12) tekun dan tidak mudah bosan; (13) tidak kehabisan akal dalam memecahkan masalah; (14) kaya akan inisiatif;
(15) peka terhadap situasi lingkungan; (16) lebih berorientasi ke masa kini dan masa depan dari pada masa lalu; (17) memiliki citra diri dan stabilitas emosional yang baik; (18) tertarik kepada hal-hal yang abstrak, kompleks, holistik dan mengandung teka-teki; (19) memiliki gagasan yang orisinal; (20) mempunyai minat yang luas; (21) menggunakan waktu luang untuk kegiatan yang bermanfaat dan konstruktif bagi pengembangan diri; (22) kritis terhadap pendapat orang lain; (23) senang mengajukan pertanyaan yang baik; dan (24) memiliki kesadaran etik-moral dan estetik yang tinggi.

Sedangkan Kirton (1976) membedakan ciri kepribadian kreatif kedalam dua gaya berfikir : Adaptors dan innovators. Kedua gaya tersebut merupakan pendekatan dalam mengahadapi perubahan. Adaptors mencoba membuat sesuatu lebih baik, menggunakannya, ada yang menggunakan metode, nilai, kebijakan, dan prosedur. Mereka percaya pada standard dan konsesus yang diterima sebagai petunjuk dalam pengembangan dan implementasi ide-ide baru. Sedangkan innovators suka merekonstruksi masalah, berpikir .

Mencermati pandangan pertama, yang mengartikan kreativitas sebagai kemampuan, maka yang dimaksud kemampuan di sini adalah kemampuan menggunakan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dilandasi oleh fakta dan informasi yang akurat dalam memecahkan atau mengatasi suatu masalah, dengan demikian kreativitas dalam pengertian kemampuan hanya mencakup dimensi kognitif. Ciri-ciri kreativitas tersebut belum sepenuhnya menjadi tolok ukur seseorang dapat disebut kreatif. Ciri lain yang harus dikembangkan yaitu ciri afektif menyangkut sikap dan perasaan seseorang, antara lain motivasi untuk berbuat sesuatu.

Penyajian Pembelajaran,
Penyajian dalam pembelajaran ini dapat dilakukan dengan, pemecahan masalah, curah pendapat, belajar dengan melakukan (learning by doing),menggunakan banyak metode yang disesuaikan dengan kontek, kerja kelompok.
Para siswa menyelesaikan permasalahan, menjawab pertanyaan-pertanyaan, memformulasikan pertanyaan-pertanyaan menurut mereka sendiri, mendiskusikan, menerangkan, melakukan debat, curah pendapat selama pelajaran di kelas, dan pembelajaran kerjasama, yaitu para siswa bekerja dalam tim untuk mengatasi permasalahan dan kerja proyek yang telah dikondisikan dan diyakini agar terjadi ketergantungan yang positif dan tanggung jawab individu yang mendalam.

Untuk keberhasilan dalam kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang diharapkan, sebelumnya siswa dilatih cara konsentrasi, ketelitian, kesabaran, ketekunan, keuletan , peningkatan daya ingat serta belajar dengan metode bayangan. Disamping itu siswa dapat melakukan “SSN” (Senyum, Santai dan Nikmat) yang artinnya siswa dapat melakukan dengan senyum (dalam hati) berarti senang dalam proses kegiatan pembelajaran, Santai berarti siswa dapat mengikuti kegiatan pembelajaran tidak tegang/stress serta siswa dapat menikmati kegiatan pembelajaran. Dengan proses tersebut akhirnya siswa dapat menguasai materi sesuai yang diharapkan dengan benar.
Latihan ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara atau dalam bentuk permainan (games), misalnya menghitung huruf “a” pada satu (lebih) paragrap dengan beberapa kalimat, latihan membayangkan diri sendiri

Disamping itu Guru harus selalu memberikan motivasi kepada semua siswa bahwa pelajaran tidak ada yang sulit, semua siswa akan mampu menguasai materi tersebut dengan baik. Hindarilah menakut-nakuti atau menyampaikan, bahwa pelajarannya sangat sulit, hal ini akan mengurangi motivasi siswa untuk belajar, seolah-olah kemampuan otaknya tidak mampu untuk menerimanya/seolah-olah otaknya tertutup untuk menerimanya, karena pelajaran sangat dipandang sulit.
Dan berbagai cara/metode permainan yang dapat bermanfaat bagi perkembangan kemampuan otak siswa.

Senin, 14 Desember 2009

Pembelajaran Pakem

PEMBELAJARAN MELALUI PAKEM

Yenny Eka Herlin B.M *)


Abstrak

PAKEM is active teaching and learning, creativity of learning, and effectivity learning, joy full learning. Active teaching and learning is teacher strategy for students in multiple methods so partnership to teaching and learning developments.

PAKEM is to positions in self esstem studenst character building based, in then we mus be to improvement potential creativity, my by; Intellegence qoutient, emotional qoutient, spritual of qoutient.Strategy PAKEM is elementary school, secondary school and high school and thus, the quality teachers performance, kreativity, knowlegde, skill, attitude and future orientation of development education.

Keywords: PAKEM is active teaching and learning, kreativity of learning, effectivity learning and joy full learning partnershif education development.


Pendahuluan
PP.No.19 tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan, pasal 19 ayat 1; proses pembelajaran pada satuan pendidikan yang diselengggarakan secara intensif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Menurut Jawani Malaw; dengan PAKEM pembelajaran akan semakin meningkat kreatifitas peserta didik menjadi lebih cerdas, inovatif, kreatif serta menciptakan nilai-nilai keunggulan (exellent). Senada dengan pendapat Didang Setiawan, PAKEM juga dapat menciptakan rasa percaya diri siswa didalam menerima proses pembelajaran serta dapat meningkatkan segala potensi/kompetensi yang ada yakni; Intellegent qoutient, emotional qoutient, and spritual qoutient.
Pembelajaran aktif; suatu strategi pembelajaran yang dilakukan oleh guru kepada siswa melalui berbagai metode yang bervariatif serta menjadikan siswa sebagai partner dalam segala proses pembelajaran di kelas ataupun di luar kelas.
Menurut pendapat Arif Rahman: 21, Pembelajaran aktif dan kreatif adalah upaya strategi seorang guru untuk menciptakan suasana pembelajaran yang penuh dengan nilai-nilai inovasi dan rasa tanggungjawab yang tinggi sehingga anak didik semakin cerdas dan dewasa. Pembelajaran menyenangkan telah lama dilakukan dinegara-negara yang sudah maju yakni Jepang, Malaysia. Di Jepang dan Malaysia sistem pembelajaran PAKEM yang dilaksanakan bahwa guru sebagai partner yang handal dan mampu menuntaskan segala permasalahan siswa seberat apapun tentunya anak sudah dibekali beberapa kiat-kiat untuk dapat mempertahankan hidupnya kelak.
Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan telah dikembangkan oleh Konfusius dan sejak 2400 tahun yang silam beliau menyatakan tentang:
a. yang saya dengar, saya lupa;
b. yang saya lihat, saya ingat;
c. yang saya kerjakan, saya pahami.

Saya dengar, saya lihat, saya kerjakan merupakan pembelajaran aktif yang terpatri dan efektif, oleh karena itu pembelajaran aktif (PAKEM) sangat berhasil dilakukan disekolah yang manajementnya tertata dengan baik serta pemberdayaan SDM yang handal.
Menurut John Dewey (1916), Daves (1977; 31) mengatakan: belajar menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, serta mengembangkan inisiatif yang berasal dari siswa dan guru sangat diharapkan sebagai pembimbing dan pengarah dalam proses pembelajaran didalam dan diluar kelas.
Senada Gage and Berliner (1984: 267) juga berpendapat bahwa belajar berkaitan dengan jiwa yang sangat aktif serta untuk memperoleh informasi yang diterima, menyimpannya tanpa mengadakan transformasi menuju kearah konstruktif dan mampu merencanakan sesuatu. Di sisi lain pembelajaran aktif berorientasi pada fisik dan non fisik, keterlibatan langsung lebih banyak pembinaan dinamis, energik mampu beraksi serta memiliki kecenderungan menyebar atau berkembang dalam kehidupannnya sehari-hari.
Pembelajaran akan bermakna jika si pembelajar dapat secara aktif berinteraksi dengan lingkungan, memanipulasi objek-objek yang ada didalamnya dan mengamati pengaruh dari manipulasi objek-objek tersebut. Menganalisis pembelajaran menyenangkan tepat sekali dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan hal ini banyak memiliki beberapa keunggulan yang sangat berpengaruh pada siswa diantaranya ialah; siswa semakin kreatif, dewasa, penuh dengan nuansa berfikir kritis serta memiliki tanggung jawab yang tinggi.
Untuk mensinergikan hal tersebut akan kita perkenalkan ciri-ciri pembelajaran menyenangkan yaitu:
Ø Menciptakan lingkungan yang releks, menyenangkan, tak membuat stress, aman, menarik dan tak ragu melakukan kesalahan untuk mencapai keberhasilan yang tinggi.
Ø Menjamin bahwa bahan pembelajaran dan metode relevan, anda ingin belajar ketika anda melihat manfaat dan pentingnya bahan pembelajaran.
Ø Melibatkan secara sadar semua indera dan juga pikiran otak kiri dan otak kanan.
Ø Menantang (challenging) bagi peserta didik untuk dapat berfikir jauh kedepan dan mengeksplorasi apa yang sedang dipelajari dengan kecerdasan yang relevan untuk memahami bahan pembelajaran di kelas.
Ø Mengkonsulidasikan bahan yang sedang dipelajari dengan meninjau ulang dalam periode-periode yang relaks.
Ø Menjamin bahwa belajar secara emosional adalah positif, yang pada umumnya hal itu terjadi ketika belajar dilakukan bersama dengan orang lain, ketika ada homur dan dorongan semangat dan waktu rehat, jeda teratur dan dukungan antusias.

Menganalisis kembali dari konsep diatas penulis sependapat bahwa memang pembelajaran menyenangkan sangat diharapkan oleh peserta didik agar mereka dalam belajar semakin semangat dan keakraban dengan guru semakin bagus serta siswa menjadikan guru sebagai partner.

Bagaimana Multiple Intellegent Dikembangkan?

Menurut Gardner (1993) ada beberapa kecerdasan yang perlu sekali dikembangkan pada dunia persekolahan yakni:
Ø Kecerdasan linguistik; kecerdasan yang mengarah dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang bagus, dinamis, inovatif.
Ø Kecerdasan logis matematis; kemampuan berfikir siswa secara runtut maksudnya seorang siswa berfikir secara runtut dan untuk melatihnya memerlukan waktu yang lebih khusus.
Ø Kecerdasan musikal; bagaimana kemampuan siswa untuk menangkap dan menciptakan pola nada dan irama.
Ø Kecerdasan spasial; kemampuan siswa untuk membentuk imajinasi berdasarkan kenyataan atau realitas.
Ø Kecerdasan kinestetik-ragawi; kemampuan siswa untuk menghasilkan gerakan motorik yang halus.
Ø Kecerdasan intra pribadi; kemampuan siswa untuk mengenal diri sendiri atau menilai diri sendiri (self assesment).
Ø Kecerdasan antar pribadi; kemampuan siswa dapat memahami orang lain.

Dari pendapat Gardner dapat kita korelasikan dengan hasil kunjungan kerja Dewan Pendidikan Kota Banjarmasin pada SMP Islam Sabilal Muhtadin ternyata sudah 75 % dapat mengembangkan konsep Gardner tersebut dan hasilnya memang siswa merasa diberdayakan dengan berbagai macam kecerdasan tersebut, kemudian dilihat dari aspek kemampuan siswa dalam berbahasa arab dan inggeris kami melihat siswa pada kelas VII, VIII, IX sudah mampu menunjukkan kompetensinya terbukti ketika kami ajak ngobrol dengan menggunakan bahasa Arab dan Inggris pada saat itu dia sudah mampu bercakap-cakap dengan baik.
Kemudian kita lihat dari aspek kecerdasan musikal SMP Islam Sabilal Muhtadin juga pernah menjuarai even perlombaan nasyid se Kota Banjarmasin pada tingkat SMP dan MTs pada tahun 2006 dan mendapatkan juara terbaik 1 se Kota Banjarmasin mengalahkan MTsN Model Mulawarman. Oleh karena itu konsep atau pendapatnya Gardner perlu kita kembangkan lebih jauh untuk mencerdaskan siswa yang penuh dengan kreatifitas.

Standar Nasional Pendidikan (SNP)

Standar adalah proses mensyaratkan pelaksanaan pembelajaran pada suatu satuan pendidikan yang mendukung pencapaian standar kompetensi lulusan. Setiap satuan pendidikan harus melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efesien.
Perencanaan proses pembelajaran meliputi; silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Pelaksanaan proses pembelajaran harus memperhatikan jumlah maksimum peserta didik perkelas dan beban belajar maksimal perpendidik, rasio maksimal, buku teks pelajaran setiap peserta didik dan rasio maksimal jumlah peserta didik setiap pendidik.
Pelaksanaan proses pembelajaran dilakukan dengan mengembangkan budaya membaca dan menulis (Suryadi; 27). Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan atau dipersiapkan dalam pembelajaran yaitu:
1. Kurikulum
2. Silabus
3. Bahan pembelajaran
4. Metode pembelajaran
5. Alat Peraga/ multi media

Menurut Nana Syaodih: 34, pelaksanaan adalah merupakan proses inti pembelajaran yakni seorang guru harus memiliki :
1. Menguasai materi
2. Mampu mengelola kelas
3. Kemampuan dalam menggunakan metode yang bervariasi
4. Mampu menggunakan alat peraga
5. Ekspressi bahasa dan mampu mengkomunikasikannya
6. Motivasi .

Aspek yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran yang urgen ; karakteristik peserta didik, kondisi peserta didik, ruang kelas, alat, perabot, bahan, kompetensi siswa, serta indikator keberhasilan, alokasi waktu yang digunakan.
Seirama dengan pembelajaran PAKEM yang penulis kutip pada makalah pembelajaran Didang Setiawan yakni bagaimana siswa kita berdayakan sebagai:
· Student centered (berfokus pada siswa )
· Joy full learning (pembelajaran yang menyenangkan )
· Competency based (berorientasi pada kemampuan dasar )
· Mastery learning (pembelajaran tuntas )
· Countinous learning (pembelajaran berkesinambungan )
· Contextual learning (pembelajaran nyata )
· Actual
· Energik dan dinamis.

Berdasarkan analisis kalau benar-benar dikembangkan di sekolah/madrasah maka tentunya dengan pembelajaran PAKEM siswa akan mampu belajar dengan baik dan selalu inovatif, bergairah akhirnya siswa semakin cerdas dan berkualitas.

Prinsip-Prinsip Pembelajaran PAKEM

Kalau kita akan mengembangkan prinsip-prinsip PAKEM seharusnya guru telah mempersiapkan metode yang bervariasi yang berorientasi pada probelim solving (pemecahan masalah, seminar, diskusi panel, diskusi kelompok, brain storming, penugasan, kerja kelompok, kerja mandiri).
Pemanfaatan berbagai sumber yang relevan berkenaan tentang buku pelajaran, laboraturium, alat bantu belajar dan sarana lainnya. Di sisi lain juga diharapkan adanya kompetensi yang unggul, komprehensip, keimanan dan nilai-nilai budi pekerti dan life skill. Oleh karena itu sekolah/madrasah harus memiliki manajemen yang bagus agar hal tersebut dapat terealisasikan dengan baik.
Empat pilar pendidikan yang tidak asing lagi bagi kita yaitu: learning to know, learning to do, learning to live together, and learning to be. Konsep ini perlu juga kita kombinasikan pada 3 aspek penilaian yang sering dilaksanakan di sekolah :

Pengetahuan



Keterampilan

Sikap





Ketiga ranah ini harus dikembangkan terus dalam dunia pendidikan apalagi adanya kurikulum 2006 atau KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang sejak 2006 s.d. 2009 sudah tahap pelaksanaan yang sesungguhnya oleh pihak sekolah/madrasah.
Dalam pembelajaran untuk mencapai kompetensi harus menggunakan empat keterampilan berbahasa (four language skills) oleh karena itu dituntut guru yang profesional dan handal dalam menciptakan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, karena sebagian besar siswanya bertipe kinestetik. Oleh karena itu pembelajaran dengan melalui PAKEM pantas di kembangkan di sekolah/madrasah agar nantinya siswa kita menjadi cerdas, terampil, inovatif, kreatif, mampu menjawab tantangan zaman.



Kesimpulan
Belajar bekaitan denga jiwa yang sangat aktif serta untuk memperoleh informasi yang diterima, menyimpannya harus mengadakan transfromasi menuju kearah konstruktif dan mampu merencanakan sesuatu. Di sisi lain pembelajaran aktif berorientasi pada fisik dan non fisik keterlibatan langsung lebih banyak pembinaan dinamis, energik mampu beraksi serta memiliki kecenderungan konstruktif.
Pembelajaran bermakna jika si pembelajar dapat secara aktif berinteraksi dengan lingkungan dan mampu menganalisis hasil pembelajaran yang sangat berpengaruh pada siswa diantaranya ; melihat kreatifitas siswa itu sendiri, penuh dengan nilai kedewasaan, penuh dengan nuansa berfikir kritis, dan memiliki tanggungjawab moral yang tinggi.Oleh karena itu PAKEM mencoba menjawab tradisi pembelajaran kita agar lebih maju dan inovatif di lembaga sekolah kita sekarang. Harapan kita sekarang terciptanya lingkungan yang releks, menyenangkan, tidak membuat siswa menjadi stress, aman, menarik dan ragu melakukan kesalahan untuk mencapai keberhasilan yang tinggi.
Semoga telaahan ini dapat kita renungkan bersama dan dilaksanakan sesuai dengan sekolah/madrasah serta manajemen yang handal dan di dukung dengan SDM yang berkualitas...! q


Daftar Pustaka

Jawani Malaw, 2006, ”Makalah Pembelajaran Diklat Wi Rumpun Pendidikan”. Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Jakarta.
Nana Syaodih, 2005, “Makalah Kurikulum dan Pembelajaran” Universitas Islam Nusantara Bandung (UNINUS).
Gardner, 1993, “ Multiple Intellegent“ Accses 22 November 2007.
www.edu.kipbipa. Papers.Gardner.doc.Suryadi, 2007, “ Jurnal Pendidikan “ Accses 4 Desember 2007. www.education.jurnal.doc.